Minggu, 30 Desember 2012

FILSAFAT ILMU : EMPIRISME FRANCIS BACON

EMPIRISME FRANCIS BACON
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.[1] Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal.[2] Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.[3]
Orang pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat disimpulkan beberapa rumusan masalahnya :
1.      Siapa Francis Bacon itu?
2.      Bagaimana Empirisme menurut Francis Bacon?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Sebagai reverensi dari mata kuliah filsafat ilmu
2.      Untuk menambah wawasan para mahasiswa
3.      Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran para tokoh masa lalu


BAB II
PEMBAHASAN
A.    BIOGRAFI FRANCIS BACON
Bacon lahir di London tahun 1561, putera seorang pegawai eselon tinggi semasa pemerintahan Ratu Elizabeth. Tatkala menginjak usia dua belas tahun dia belajar di Trinity College di Cambridge, tetapi baru tiga tahun dia keluar dan tidak melanjutkan ke pasca sarjana. Mulai umur enam belas tahun dia bekerja di staf Kedubes Inggris di Paris. Tetapi begitu umurnya masuk delapan belas sang ayah mendadak meninggal dengan hanya mewariskan sedikit uang. Karena itu dia mempelajari hukum dan pada umur dua puluh satu tahun dia sudah menjadi seorang pengacara.[4]
Bacon menjadi sahabat dan penasihat Pangeran Essex, seorang bangsawan muda yang populer dan punya ambisi politik besar masa itu. Sebaliknya, Pangeran Essex merasa Bacon adalah teman yang jujur dan sekaligus bertindak sebagai pelindungnya. Suatu ketika Pangeran Essex punya ambisi yang keterlaluan, yaitu minta Bacon memimpin penyusunan rencana sebuah kudeta menggulingkan Ratu Elizabeth. Tetapi Bacon menasihatinya agar Pangeran Essex tetap setia kepada Ratu.
Nasehat Bacon tidak diterima Pangeran Essex. Dia nekad meneruskan niat percobaan kudetanya. Ternyata kudeta tersebut gagal dan Bacon memegang peranan aktif dalam proses penuntutan sang Pangeran atas tuduhan pengkhianatan. Pangeran Essex dipancung kepalanya, menggelinding bagai kelereng. Keseluruhan peristiwa itu menimbulkan kesan buruk pada publik terhadap diri Bacon.
Ratu Elizabeth tutup usia tahun 1603 dan Bacon menjadi penasihat raja pengganti (Raja James I). Raja James I tak selalu mengindahkan nasihat Bacon, meskipun dia menghormatinya. Dalam masa pemerintahan James I, karir Bacon di kalangan pemerintahan maju pesat. Tahun 1607 dia menjadi konsultan umum bidang hukum dan tahun 1613 dia menjadi jaksa agung. Karirnya tidak selesai di tangga tersebut tahun 1618 dia ditunjuk sebagai Ketua Majelis Tinggi, suatu kedudukan yang setingkat dengan hakim agung pada Mahkamah Agung di Amerika Serikat. Di tahun itu juga dia memperoleh gelar “baron” dan tahun 1621 dinobatkan lagi jadi “viscount”, satu gelar kebangsawanan di atas “baron” tetapi di bawah “earl.”
Tetapi, datanglah pukulan. Selaku hakim, Bacon pernah menerima “hadiah” dari tertuduh. Meskipun hal semacam ini agak umum terjadi saat itu, akan tetapi hal tersebut tetap merupakan perbuatan terlarang. Lawan-lawan politiknya di parlemen tidak menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut untuk mendepaknya dari kursi Hakim Agung. Bacon mengaku dan dijebloskan di penjara yang terletak di “Tower of London,” menara kota London. Bukan hanya itu, dia pun mesti membayar sejumlah denda yang besar jumlahnya; dan dilarang bekerja di kantor pemerintahan untuk selama-lamanya. Raja segera membebaskan Bacon dari penjara dan membebaskan pula beban dendanya. Tetapi, dengan kejadian tersebut tamatlah riwayat politik Bacon.[5]
Komentar Bacon dalam pengakuannya berbeda. Dia mengatakan, “Saya adalah hakim terjujur di Inggris selama lima puluh tahun, dan saya tukang ngomel dan tukang kritik terpolos di Parlemen Inggris selama 20 tahun.” Karier politik yang menuntut seseorang begitu aktif dan kreatif menyebabkan Bacon cuma punya sedikit waktu tersisa buat pekerjaan-pekerjaan lain. Kendati demikian, kemasyhuran Bacon begitu tahan lama. Namanya ditempatkan dalam daftar orang-orang tekenal, adalah karena pertimbangan tulisan-tulisan filosofisnya ketimbang keaktifan politiknya.
B.     PEMIKIRAN FRANCIS BACON
Meskipun bukan seorang ilmuwan praktis, Bacon dianggap sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" oleh banyak sejarawan. Filsafat dan tulisannya sangat berpengaruh dalam mengobarkan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17.[6] Banyak kaum cendekiawan seperti Robert Boyle dan Isaac Newton menerima "filsafat baru" Bacon yang menekankan empirisme (teori yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan pengalaman langsung) dan induksi. Setelah menampik ketergantungannya pada pendapat para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles, ilmu pengetahuan baru semakin merebak ke permukaan dan memunculkan banyak sekali penemuan baru yang terus bertambah hingga kini. Namun "filsafat baru" ini sama sekali bukan hal yang baru; karena hal ini sudah ada dalam Alkitab. Sang "bapak ilmu pengetahuan modern" ini adalah seorang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan yang menjadikan doktrin Kristen sebagai dasar pemikirannya.
Inti filsafat Bacon adalah metode induksi: berlawanan dengan metode deduksi untuk memahami sifat alam semesta seperti yang dilakukan para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles dan Galen, ilmuwan harus membangun teori dari nol, mengumpulkan fakta-fakta, mengukur sesuatu, mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti pengamatan, kemudian membuat hipotesa untuk menjelaskannya. Ujilah hipotesa-hipotesa tentang fakta-fakta yang ada. Bacon yakin cara tersebut akan memberikan cara pasti untuk mendapat kebenaran daripada memercayai alasan-alasan manusia yang bisa saja keliru, dan akan muncul pada masa keemasan penemuan. Metode ilmiah yang kita pelajari di sekolah sebagian besar menganut pemikiran Bacon: mengumpulkan hasil observasi, membuat hipotesa untuk menjelaskannya, menguji hipotesa tersebut, dan menolak semua alasan-alasan yang tidak konsisten melalui observasi. Hipotesa yang cocok dengan tes empiris dapat berkembang menjadi suatu teori dan hukum.
MacMullin berpendapat bahwa pemikiran menelusuri pemikiran Bacon secara lebih mendalam justru menunjukkan bagaimana dia menegaskan pentingnya mengoperasikan dimensi eksperimental dan penjelasan-penjelasan rasionalistis dalam sains. Kutipan berikut mewakili gagasan Francis Bacon:
“Orang-orang yang bereksperimen ibarat semut: mereka hanya mengumpulkan dan menggunakan; sementara kaum rasionalis ibarat laba-laba, mereka membangun jaring-jaring dari substansi mereka sendiri. Berbeda dengan semut dan laba-laba, lebah mengambil jalan tengah: dia mengumpulkan material yang dibutuhkan dari kembang-kembang yang ada di taman dan ladang, tetapi mengubah dan mencernanya dengan kekuatannya sendiri. Seperti inilah bisnis utama dari filsafat: karena filsafat tidak mengandalkan semata-mata pada kemampuan nalarnya, juga tidak semata-mata menggantungkan diri pada bahan-bahan yang diambilnya dari sejarah alam dan eksperimen-eksperimen mekanikal dan menjelaskannya kemudian menjelaskannya sebagaimana bahan-bahan menampakkan diri; tetapi justru menjelaskannya berdasarkan pemahaman yang sudah diolah dan dicerna. Karena itu, dari persaingan yang terbuka dan murni antara kedua fakultas ini, yang eksperimental dan yang rasional, banyak yang bisa diharapkan”. [7]
Filsafat ilmu pengetahuan telah berubah dan semakin matang karena Bacon dan beberapa filsuf lain terus-menerus memperdebatkan apa yang benar antara ilmu pengetahuan sejati dibanding ilmu pengetahuan palsu. Idealisme Bacon tampaknya terlalu sederhana dan tidak praktis, sekarang kita menyadari perlunya teori-teori ilmiah untuk membuat prediksi dan perlunya keabsahan dalam suatu hipotesa.[8] Syukurlah metode Bacon sudah terlihat hasilnya: penemuan baru yang utama dalam disiplin ilmu kimia, fisika, biologi, dan astronomi, penemuan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru, penumbangan keyakinan-keyakinan yang salah yang sudah lama dipertahankan, dan kelompok baru seperti Royal Society di Inggris.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Bacon lahir di London tahun 1561, putera seorang pegawai eselon tinggi semasa pemerintahan Ratu Elizabeth. Bacon dianggap sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" oleh banyak sejarawan. Filsafat dan tulisannya sangat berpengaruh dalam mengobarkan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17. Inti filsafat Bacon adalah metode induksi: berlawanan dengan metode deduksi untuk memahami sifat alam semesta seperti yang dilakukan para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles dan Galen, ilmuwan harus membangun teori dari nol, mengumpulkan fakta-fakta, mengukur sesuatu, mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti pengamatan, kemudian membuat hipotesa untuk menjelaskannya. Ujilah hipotesa-hipotesa tentang fakta-fakta yang ada. Bacon yakin cara tersebut akan memberikan cara pasti untuk mendapat kebenaran daripada memercayai alasan-alasan manusia yang bisa saja keliru, dan akan muncul pada masa keemasan penemuan.



DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993
Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, terj. Mestika Zed & Zulfani, ed. 02, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003
Prof. Dr. H. Siregar, Maragustam,M.A, Hand Out Filsafat Ilmu. Yogyakarta, 2012.
Richard Osborne, Filsafat Untuk Pemula, terj. P. Handono Hadi, Yogyakarta: Kanisius, 2008


[1] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm 31
[2] Prof. Dr. H. Siregar, Maragustam,M.A, Hand Out Filsafat Ilmu. Yogyakarta, 2012. Hlm. 22-24
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), hlm 173
[4] http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/04/biografi-francis-bacon-1561-1626.html
[5] Richard Osborne, Filsafat Untuk Pemula, terj. P. Handono Hadi, Yogyakarta: Kanisius, 2008
[6] Harun Hadiwijono, hlm 15
[7] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, terj. Mestika Zed & Zulfani, ed. 02, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003, Hlm. 27
[8] Harun Hadiwijono, hlm 16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar